Karena memang kita dua sisi yang berdampingan. Sendiri, tapi berdua. Dua garis yang sengaja ditabrakkan kemudian diletakkan pada rel yang sama. Terkadang lucu bagaimana kita diam dan berharap pada yang lain agar bergerak, mengetuk, kemudian menjadi sebuah arah dimana harapan berpendar disekitarnya. Padahal pada kenyataanya, mungkin, kita sama-sama berdiri pada kutub negatif, menunggu.
1
Tuesday, 20 January 2015
ketik - hapus - ketik - hapus - ketik lagi - hapus lagi - kemudian tutup jendela. Kaupun merasakannya bukan? Banyak hal yang ingin disampaikan, diluruskan, atau dikaitkan tapi berakhir pada kesunyian. Iya, kau tak menulis apapun dan kemudian menerawang ke atas sambil menghela nafas.
sounds like maturity, right? ... or fear.
Perasaan takut untuk melangkah kemudian mengambil resiko, dan akhirnya menerima segala consequences. Mungkin bukan dirimu, tapi dia. Ingatlah, tak semua manusia melihat langit yang sama. Selalu ada di sana, seseorang yang hanya mengenal matahari lewat namanya. Terkadang kau gemas untuk melukiskan matahari sedekat mungkin, namun cobalah lihat dirimu sendiri, tak pernahkah kau mempertanyakan keberadaan Tuhan?
Posted by auliannisa at 08:55 0 comments
Subscribe to:
Posts (Atom)
