Jumat
barokah. Hari ini alhamdulillah bisa bertemu dengan beberapa teman yang telah
cukup banyak menggoreskan tinta di lembaran saya. Awalnya hanya janjian makan
salah satu menu yang hanya ada di mall itu sebenarnya, tapi dikarenakan lamanya
pesanan pembicaraan kami menuju ke salah satu titik yang enggan sekali untuk
diperdebatkan… politik -_-
Saya
tak punya pilihan lain selain mendengarkan mereka berdebat karena, well, saya tak sepaham itu dengan
politik ditambah lagi pemikiran saya selalu buntu jika menyentuh ranah itu. They had their own reason. Satunya
golput, satunya memang agak concerned
dengan beberapa partai dan tokoh. Bisa dibayangkan keadaan meja saat itu haha.
Namun, ada satu hal yang sempat mampir di otak saya. Mereka… tumbuh.
Iya,
semua orang memang tumbuh physically. Tapi anda tentu tahu bukan itu yang saya
maksudkan. Beberapa hari yang lalu saya memang sempat menyaksikan perubahan
beberapa teman SMA yang tentunya, look so
WOW. Oke, saya memang sedikit kepo.
Baiklah. Kembali ke perubahan, they look
different. Yang dulu jaman sekolah kutu kuper sekarang jadi aktif di
organisasi, yang dulu sukanya bolos ke kantin saat jam pelajaran sekarang jadi
penuh dengan ide kreatif, yang dulunya introvert jarang ngomong sekarang jadi
stylish maksimal. Everyone grows, but me. Iya, saya benar-benar merasa
terintimidasi karena yah bisa dikatakan waktu sekarang lebih banyak dihabiskan
gulung-gulung di tempat tidur just like a
pillow seakan masa produktif hanya di waktu SMA, astaghfirulloh -_-
Saya hanya takut segala pikiran yang saya bangun selama ini
hanya ilusi belaka. Bahwa ada sisi lain yang tidak semua orang lihat dan paham,
telah satu tingkat lebih tinggi kualitasnya dari dulu. Saya takut itu tak
cukup. Iya, tidak cukup untuk membuat orang melihat saya sebagai seseorang yang
berbeda dan qualified enough to be their ‘someone’. Kemudian saya mulai
menyalahkan lingkungan dan… ah.
Mereka. Iya, mereka. Mereka yang masih berkutat dengan ledekan
jaman SMA tertawa dan bilang “Kamu, kayak aku kemarin deh. Desperate banget
haha”. Then they said things I’ve never seen before. Beberapa hal yang mereka
sebutkan -yang tak mungkin saya sebutkan di sini- cukup membuat saya tersenyum
sore itu. Kau tahu, semua orang berubah, pun dirimu.
Ada kemungkinan pikiranmu hanya
sebuah delusi, tapi, setidaknya delusi itu menghasilkan sesuatu, bukan? Perubahan
yang kau cari itu, tak akan kau temukan jawabannya sendiri. Bahkan, change is not something to be questioned and
to be proven. Dia ada untuk dipupuk tiap harinya tanpa diukur seberapa
jauh, panjang, dan berat untuk menjadi ‘king’.