Ada secuil kisah yang ingin saya bagi di sini. Tentang saya dan Dia, tentang hati yang mudah sekali terbolak-balik dan cinta yang tak berujung. Iya, ini tentang semesta yang membungkus hadiah untuk saya yang sudah 21tahun merangkak menuju kematian. Rasanya? Bahagia tapi sedih.
Dan Ia datang melalui sebuah puisi. Tidak dengan kata-kata pujangga memang, tapi puisi 4 lembar itu adalah puisi terindah dari ketulusan seorang Ibu. Iya, ibu menulis sesuatu untuk saya selepas sholat malam bersama bapak. Saya terkadang lupa bahwa 'ibu' membingkai 'wanita' dan bapak membingkai 'pria'. Terlepas dari peran mereka sebagai pelindung, ibu sesungguhnya wanita yang romantis nan lembut dan bapak... em... yang selalu menahan air mata ketika saya memeluknya. Ketika asa kami bertemu, matalah yang menceritakan segalanya. Sungguh, saya harus banyak bersyukur masih bisa melihat, mendengar, merasakan, dan mencintai kalian.
Terima kasih karena telah memberi saya perhatian lebih pagi itu, yang terkasih. Ini benar-benar kado luar biasa jika menengok dunia yang saya huni beberapa bulan lalu. Seperti biasa, Ia memberikan apa yang saya butuhkan. Dan jika saatnya tiba, saya benar-benar ingin bertemu dengannya dengan keadaan yang terbaik.
:)
Terima kasih karena telah memberi saya perhatian lebih pagi itu, yang terkasih. Ini benar-benar kado luar biasa jika menengok dunia yang saya huni beberapa bulan lalu. Seperti biasa, Ia memberikan apa yang saya butuhkan. Dan jika saatnya tiba, saya benar-benar ingin bertemu dengannya dengan keadaan yang terbaik.
:)

0 comments:
Post a Comment